President and Country Manager Ericsson Indonesia
Senin, 04 Januari 2010
![]()
Arun Bansal,President and Country Manager Ericsson Indonesia
Berbincang dengan Arun Bansal (41 th) terasa menyenangkan. Pengalaman panjang di industri telekomunikasi selular membawa Bapak dua putri ini fasih betul memetakan persaingan dan meramu strategi ke depan agar operator selular menggapai sukses yang lebih besar. Arun –panggilan akrabnya- malang melintang di Ericsson mulai dari India, Swedia, Amerika Serikat, Malaysia, Bangladesh, hingga berlabuh sebagai pucuk pimpinan Ericsson Indonesia.
Untuk lebih mengetahui pandangan Arun Bansal mengenai prospek industri Selular di Tanah Air, SELULAR melakukan wawancara dengan pria yang hobi olahraga ini di kantor pusat Ericsson Indonesia Wisma Pondok Indah Jakarta beberapa waktu lalu. Berikut petikannya :
Apa pandangan Anda tentang kondisi telekomunikasi selular pada 2010?
Indonesia adalah pasar yang tumbuh sangat pesat. Terlihat dengan penetrasi telekomunikasi mobile yang masih berkembang, dan telah melewati penetrasi kabel (wireline). Dulu, masyarakat tidak punya alternatif pilihan ke internet atau konektivitas lain, sekarang dengan mobile ada pertumbuhan di internet dan penetrasi mobile data. Selular di Indonesia terus tumbuh tidak hanya di sisi traffic voice tapi juga mobile internet data yang tumbuh secara eksponensial.
Setelah perang tarif, apakah Anda lihat operator akan mulai bersiap dengan QoS (Quality of Services) demi memuaskan pelanggannya?
Ada dua aspek yang saya lihat, operator pasti akan fokus ke kualitas karena pelanggan semakin teredukasi dengan baik. Karenanya, kami memiliki produk untuk memperbaiki network, mobile data, dan sebagainya. Sementara untuk perang tarif, saya sulit menjawab karena itu kebijakan dan strategi masing-masing operator. Tapi saya sedikit memberi pandangan ke Anda, bahwa kami men-deliver TCO (total cost ownership) terbaik ke pelanggan kami, peralatan terbaik, dan jaringan berkualitas di Indonesia dan di seluruh dunia.
Persaingan antar vendor jaringan demikian ketat, termasuk dari vendor Eropa maupun Asia. Bagaimana strategi Ericsson dalam menghadapi kompetisi ini?
Saya perlu tegaskan bahwa kompetisi kami sikapi dengan tangan terbuka, welcome karena kami melihat kompetisi akan menyehatkan bisnis ini secara keseluruhan. Keyakinan kami dengan portfolio produk dari hulu dan hilir yang berkualitas dunia serta pengalaman panjang berpartner dengan operator selular, membuat kami yakin kerjasama ini akan terus berlangsung dengan baik.
Sebelum WiMax muncul vendor-vendor telekomunikasi telah menghadirkan HSPA+ dan uji LTE, komentar Anda?
Perlu diketahui Ericsson adalah salah satu yang pertama implementasi teknologi WiMax. Tapi dari perbincangan kami dengan sejumlah pelaku kunci industri selular di seluruh dunia, momentum global dari teknologi adalah ketersediaan mobile device. Dari pasar yang saat ini ada, hampir 90% akan mengarah ke LTE. Kunci bagi pemain dalam memanfaatkan teknologi baru adalah cepat menuju pasar (fast in time) dan disitulah operator akan memenangkan persaingan. Menurut saya, WiMax akan menjadi teknologi komplementer untuk coverage ataupun broadband access, tetapi skala ekonomi WiMax belum cukup. Teknologi tetaplah teknologi, yang jelas kami berpandangan bahwa bisnis ini adalah economic scale game, dengan skala ekonomi akan men-drive penurunan harga ke konsumen, hingga men-drive penggunaan teknologi baru dengan harga yang terjangkau (affordable)
Menurut Anda apakah LTE akan siap di Indonesia pada 2010?
Memang untuk LTE butuh guideline dari regulator untuk penerapannya. Tetapi kami percaya masyarakat Indonesia sudah menuju economic broadband connectivity. Kehadiran HSPA+ seperti yang kami dukung ke beberapa operator selular sebagai salah satu buktinya. Apalagi pasar mobile data Indonesia, salah satu pasar paling cepat dan penting yang mengadopsi HSPA+ di kawasan Asia Tenggara.
Jika memang komunikasi data akan semakin besar tentu salah satu kunci pengembangannya adalah konten, apa opini Anda?
Banyak konten global tersedia, tapi sebaiknya ada fasilitas untuk membangun konten lokal. Kalau di Indonesia sekarang Facebook yang populer, kenapa tidak membuat konten yang mirip Facebook sehingga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sendiri. Sehingga traffic-nya bisa berada di Indonesia dan banyak hal akan bisa dielaborasi lebih dalam.
Termasuk dalam hal ini inisiasi Ericsson dengan IPX?
Ya, itu salah satu bentuk komitmen Ericsson dalam pengembangan konten. Keberadaan IPX untuk menjembatani antara penyedia konten –baik besar maupun kecil dengan operator selular. Dengan kemudahan ini kami berharap konten lokal bisa tumbuh dengan baik, dan dengan jaringan yang kami miliki hingga tataran global, kemungkinan konten bisa dipasarkan tidak hanya di Indonesia tetapi juga ke negara lain.
Setelah 6 bulan di Indonesia dan sebelumnya bergabung di Ericsson Bangladesh, seperti apa perbandingan pasar selular di kedua negara menurut Anda?
Saya kira Indonesia unik, gabungan antara Singapura dan Bangladesh. Artinya, di Jakarta teknologi modern sangat ekstrem mirip Singapura, tapi di wilayah lain mirip seperti Bangladesh yang dihadapkan pada isu pasokan listrik dan sebagainya. Yang jelas, pasar Indonesia sangat atraktif bagi Ericsson.
Apa saran Anda ke operator dengan luasnya wilayah yang harus dicakup oleh layanan operator?
Bila melihat sejumlah studi, seperti yang dilaporkan oleh London Business School bahwa ada korelasi antara GDP dengan penetrasi telekomunikasi. Bila operator melakukan investasi di sebuah daerah, maka GDP di daerah tersebut akan naik lebih cepat. Operator selular yang membuka wilayah di satu daerah akan member manfaat kepada masyarakat, GDP daerah tersebut, GDP nasional, maupun memberi dampak ekonomis pada operator selular itu sendiri.
Popularity: 13% [?]






Be The First To Comment
Related Post
Please Leave Your Comments Below